Perasaan Kedua
November yg lembab. Matahari pukul 10.00 yang terik berbohong bahwa akan bersinar terus sampai senja.
Terjemahanku tentang cuaca hari ini benar saat pukul 11.30 hujan deras mengguyur sekolah ini.
Tepat setelah bel istirahat kedua berbunyi, hujan yang dikhawatirkan akan turun waktu pulang sekolah sudah membiarkan dirinya jatuh sekarang.
Aku masih harus ke ruang Osis untuk membereskan berkas tadi pagi sebelum pergi ke kantin. Beberapa siswa berjalan cukup hati-hati menyebrang menuju kantin dibelakang gedung C barat.
Perjalananku menuju kantin dipenuhi kekhawatiran tentang bagaimana Ellie akan bertahan hari ini dengan luka itu. Sungguh kebetulan, langkahku terhenti saat kulihat Ellie ada di gedung seberang ku sedang melihat hujan.
Dia berdiri sendirian, gedung sekolah berleter U ini kami sama-sama di ujung barat dan timurnya. Aku melihatnya khawatir, luka di perutnya minggu kemarin yg tertutup baju itu benar-benar tersembunyi dengan baik. Aku memutuskan berjalan lewat lorong sebelah gedung utara untuk menemuinya, dia masih menatap nalar hujan sendirian di sana.
Aku berjalan cepat sambil memaku kan pandangan padanya sesekali ku pastikan jalan di depanku aman untuk di lewati.
"Ellie! ," Aku meneriakkan namanya saat sampai sudut gedung berjarak 3 ruangan dari tempat Ellie berdiri.
Ku hampiri dia yg menoleh tersenyum tipis kepadaku.
"Ngga istirahat? ,"
"Ngga, udah makan roti yang tadi pagi," jawabnya sambil masih melihat hujan. Aku kira roti dan susu yang kuberikan tadi pagi untuk sarapannya, ternyata nafsu makan nya yang datang terlambat membuatnya baru mengingat untuk memakannya saat siang.
"Kalo minum?," Tanya ku menggoda.
"Sudah lah, pertanyaanmu lucu," Dia tersenyum.
Aku menyukainya. Sebagai temannya di Sekolah Dasar, aku memiliki perasaan lebih ini untuknya. Namun, karena kejadian yang menimpaku aku harus berpisah, melupakannya dan menghentikan perasaanku ini untuknya, kupikir waktu itu sudah berakhir.
Tapi saat pertengahan masuk SMA tak kusangka kami satu kelas, sungguh ternyata perasaanku belum berakhir untuknya, makin lama suatu tempat di tubuhku berisi dirinya. Dia wanita dengan rambut sebahu dan tinggi yang tak jauh dari ku, dia juga punya kulit coklat sawo matang yang sehat.
Aku bahkan masih mengingat rambut pendeknya waktu SD, tas punggung dan gantungan kuda pony kesukaannya, tak kusangka dia di sebelah ku dengan banyak kisah sekarang.
Kesibukannya sebagai atlet pencak silat membuatku jarang bertemu dengannya. Ditambah, kejadian minggu kemarin yang membuatnya mendapat jahitan di perut kirinya membuatku benar-benar khawatir. Padahal baru saja kemarin aku menemuinya di rumah mengecek kesehatannya, namun kekhawatiran ini tak kunjung ingin berhenti.
Berkali-kali aku punya keinginan untuk mengungkapkannya, aku yakin dia juga akan mengerti. Ku pandangi matanya yang terpaku pada hujan. Sesekali ku hirup bau hujan yang disukainya. Aku mulai kedinginan, apa dia tak kedinginan? Haruskah ku ajak dia masuk ke dalam kelas saja?. Saat aku ingin mengajaknya dia mengajukan pertanyaan yang mungkin ingin dia katakan sejak awal melihat hujan.
"Kin, mau hujan-hujanan ngga?,"
"Hah?," Jawabku terkejut.
"Lo ngga apa apa hujan-hujanan sekarang?,"
"Emang lo bawa ganti El?," Tanya ku tak henti.
Bagaimana bisa dia mau hujan-hujanan di air yang sangat deras ini, bahkan aku yakin anak-anak yang baru aja selesai mapel olahraga tidak mengenakan baju olahraganya untuk hujan-hujan.
"Iih masak ketua OSIS takut?," Ajaknya lagi menggoda.
"Gue takutnya soal lo El, jangan dulu lah," Bujuk ku meyakinkannya.
Bahkan wajahnya yang masih pucat yang dia sembunyikan dengan warna liptint kesukaannya masih terlihat.
Kami masih saling membujuk sampai ada yang menghentikan kami. Seorang wanita dengan rambut panjang tiba-tiba datang dan sudah berada di sebelahku.
"Kin," Ini Nura, pacarku.
"Aku beliin susu ama roti nih, makan ya," Nura menyodorkan kantong plastik bening kepadaku.
"Ke kantin yuk El, gue pengen makan bareng lo," ajaknya dengan senyum sumringah.
Ellie mengiyakan dan mereka pamit membiarkan Kin menemui guru Sejarah di Kantor.
Hujan siang itu seperti satu dari banyak momen berisi tentang mereka. Perasaan mereka, pemikiran mereka, perhatian dan kekhawatiran mereka.
Semakin lama semua itu tumbuh menjadi besar, tanpa ada yang berani mengungkapkan, membuat mereka berhenti dalam satu waktu, berputar dalam satu waktu yang terulang. Tidak ada kejelasan akankah mereka bisa keluar dari masing-masing keinginan yang memaksa ini.
Komentar
Posting Komentar